“…(di Pakistan dan Afganistan), kami minum tiga cangkir teh saat membicarakan bisnis, pada cangkir pertama engkau masih orang asing; cangkir kedua, engkau teman; dan pada cangkir ketiga, engkau bergabung dengan keluarga kami. Sebuah keluarga yang siap untuk berbuat apapun-bahkan untuk mati.”
Haji Ali, Kepala Desa Korphe, Karakoram-Pakistan
Buku kedua yang saya beli di Indonesian Book Fair JCC adalah Three Cups Of Tea, ditulis Oleh Greg Mortenson dan David Oliver Relin. Buku setebal 630 halaman dan diterbitkan oleh penerbit Hikmah ini sangat inspiratif.
Three Cups of Tea berisi mengenai kisah pemenuhan janji. Sebuah janji yang dilontarkan kepada Haji Ali untuk membangun sebuah sekolah di Desa Korphe sebagai balas budi kebaikan atas Haji Ali dan keprihatinan Greg Mortenson atas suasana penididikan anak-anak di Desa Korphe. Ya, selama satu dekade berikutnya, Greg Mortenson telah membangun tak kurang dari lima puluh satu sekolah—terutama untuk anak-anak perempuan. Kisahnya adalah sebuah petualangan seru dan persahabatan antara seorang Angreji (Seorang Amerika dalam Bahasa Suku Balti) dengan kaum Islam Sunni dan Syiah Pakistan serta Afganistan, sekaligus kesaksian akan kekuatan semangat kemanusiaan.
Greg Mortenson, seorang perawat, pada tahun 1993 berhasrat untuk menaklukan puncak gunung Himalaya yang dikenal dengan K2. Bukan hanya gagal, Greg Mortenson juga mengalami kelelahan yang amat kronis dan kehilangan 15 kg bobot tubuhnya. Greg Mortenson yang menuju Askole, malah tiba di Korphe, sebuah desa miskin yang sangat terpencil, begitu terpencilnya sampai tidak bisa ditemukan dipeta wilayah Karakoram-Pakistan. Berkat Mouzafer Ali, seorang porter berasal dari suku Balti, Greg Mortenson diperkenalkan kepada Haji Ali.
Di Desa korphe, Greg Mortenson di jamu oleh Haji Ali dengan penuh kasih sayang dan diberikan perawatan yang terbaik dan diperlakukan bak tamu istimewa. Di Desa Korphe yang amat sangat miskin inilah jalan hidup Greg Mortenson dan jalan hidup anak-anak di Pakistan Utara, berubah. Ketika memikirkan cara membalas budi baik mereka, jantung Mortenson serasa tercerabut dan napasnya tercekat saat melihat bagaimana anak-anak di sana bersekolah: mereka duduk melingkar, berlutut di tanah yang membeku, dalam udara nan dingin, dengan tertib mengerjakan tugas. Greg Mortenson meletakkan tangannya di pundak Haji Ali dan berkata, “Aku akan membangun sebuah sekolah untuk kalian. Aku berjanji.” Inilah kisah mengenai pemenuhan janji tersebut. Ya, selama satu dekade berikutnya, Greg Mortenson telah membangun tak kurang dari lima puluh satu sekolah—terutama untuk anak-anak perempuan—di daerah tempat lahirnya Taliban. Kisahnya adalah sebuah petualangan seru sekaligus kesaksian akan kekuatan semangat kemanusiaan.





Comments