Undangan Pernikahan Dinie dan Hadi

1 12 2010

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bismillahirohmanirrohim…

Dengan penuh Syukur dan memohon akan Berkah Ridho Allah SWT, maka perkenankanlah kami :

NURYUS ARDI ANISA, SH
(Dinie)

dan

HADI SUPRIATNA, SKM
(Hadi)

Untuk berbagi kebahagiaan dalam meniti lembaran kehidupan baru.
Kami mengundang sahabat-sahabat untuk menghadiri acara akad nikah dan resepsi, yang insyaAllah akan diselenggarakan pada :

Akad Nikah :

Hari Minggu, 05 Desember 2010
Pukul 08.00-09.00 WIB
Bertempat di Masjid Baitussalam
Perum. Bogor Raya Permai
Jl. KH. Sholeh Iskandar
Bogor

Resepsi Pernikahan:

Hari Minggu, 05 Desember 2010
Pukul 11.00 – 14.00 WIB
Bertempat di Aula Islamic Center At Taufiq
Jl. Cimanggu Permai I, Kedung Jaya
Tanah Sareal – Bogor

Kesan dalam akan terukir di lubuk hati kami, apabila Sahabat-sahabat dapat berkenan hadir untuk memberikan doa restu.
Semoga Pernikahan kami adalah pernikahan yang penuh barokah dan rahmat dari Allah SWT dan dijadikan keluarga yang sakinah, mawaddah warohmah, Amien

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Dinie & Hadi

notes :
* tanpa mengurangi rasa hormat & rasa sayang kepada sahabat-sahabat, perkenankanlah undangan via Facebook ini dapat mewakili kartu undangan yang tidak dapat dikirim ke alamat rumah masing2
* Denah lokasi terlampir

Advertisements




Pengalaman langsung : ketegangan Indonesia-Malaysia

29 08 2009
Malaysia Boleh

Malaysia Boleh

Mendengar dan membaca ketegangan yang terjadi antara bangsa Indonesia terhadap bangsa Malaysia, membuat saya tergerak untuk menuliskan sedikit pengalaman dan pendapat melalui blog ini. Bukan bermaksud merendahkan suatu bangsa, akan tetapi mencoba berpendapat dari suastu sudt pandang yang mungkin bisa diambil pelajaran

Lagi-lagi, hubungan kedua bangsa yang bertetangga rumpun melayu ini kembali “memanas”. Setelah beberapa tahun lalu, kementrian pariwisata negara diraja malaysia melaunching pariwara pariwisata malaysia yg bertajuk “Malaysia Trully Asia”, terang iklan tersebut diiringi lagu “rasa sayange” yang berasal dari Indonesia (asli bo..). Disusul versi pariwara berikutnya yang lebih “vulgar”, menyajikan kebudayaan “Reog Ponorogo”, seni kain batik, wayang dan keris. Ternyata, versi terakhir lebih vulgar lagi, yaitu tari pendet dan wayang kulit. Kontan saja, suasana kembali tegang…
Ketegangan secara langsungpun sebenarnya sudah saya alami secara beberapa tahun lalu di negara tetangga tersebut. Saat itu, saya kebetulan sedang mengikuti pertukaran pelajar ke malaysia, saya mengikuti kegiatan seminar yang diadakan oleh universitas dimana saya ditempatkan untuk memperingati hubungan diplomati kedua negara. Sebelum acara seminar dilaksanakan, seperti biasa, lagu kebangsaaan Malaysia yang berjudul “Negaraku” (Saat itu saya sudah hafal persis, dan sampai saat ini masih bisa menyanyikannya,hehehe..) dikumandangkan, hadirin berdiri tidak terkecuali kami sebagai pelajar asing dan tamu udangan dari negara Indonesia.
Acara seminarpun dimulai, kebetulan pembicara pertama adalah dari Indonesia, seorang dosen senior, pakar psikologi dari UI, mulai membuka acara seminar, panggil saja dia Sang Prof. Yang unik dari penampilan sang prof adalah, membuka acara dengan mengumandangkan lagu yang berjudul “Terang Bulan”, yang ternyata lagu tersebut sudah populer dikalangan orang tua jaman dulu, dipopulerkan oleh Rudy Van Dalm. Lagunya seperti ini :

Terang Bulan,
Terang dipiinggir kali,
Buaya Timbul, disangkalah babi,
Jangan Percaya..
mulutnya lelaki..
Berani sumpah, tapi takut mati…
(hahaha..lucu abis kan??)

Ya, kurang lebih seperti itu. Dari nada2nya memang sangat mirip dengan lagu negaraku :

Negaraku
Tanah tumpahnya darahku
Rakyat hidup, Bersatu dan maju
Rahmat bahagia, Tuhan kurniakan
Raja kita, Selamat bertahta

Rahmat Bahagia, Tuhan kurniakan
Raja kita, Selamat bertahta…

Saya tidak  menjudge bahwa lagu tersebut mirip, memang agak2 mirip, tapi nggak terlalu mirip juga..(jadi bingung..hmmmm…emang mirip..tapi..ya emang nggak juga ,hehehhe). Sang Prof menyanyikan lagu terang bulan dengan penuh canda, dan hadirinpun mayoritas tertawa dan memberikan aplaus. Setelah sang prof memberikan materi yang pertama. Materi kedua diisi pembicara dari Malaysia. Tidak disangka, ternyata pembicara tersebut marah besar, menyinggung2 nasionalisme bangsa malaysia, menyinggung2 peristiwa “Ganyang Malaysia” dan tentu saja membuat suasana mejadi tegang, terjadilah ketegangan yang cukup membawa suasanan pada pembawaan materi seminar.
Ketegangan lainnya masih ada, ketika sedang melakukan pertemuan perwakilan pengurus organisasi pelajar antar kampus, waktu itu diadakan di kampus Universitas Putra Malaysia. Terjadi ketegangan, manakala perwakilan pelajar dari Indonesia yang kebtulan sedang menempuh gelar master di University Malaya, melakukan protes dan supaya para pelajar Malaysia menghentikan sebutan “Indon” kepada WNI yang ada di Malaysia. Selain itu, disinggung pula permasalahan TKI yang amat rumit itu dan supaya para pelajar mulai menghentikan sebutan “Pendatang Haram” kepada TKI/WNI ilegal yang datang ke Malaysia…

Fuuuuh…..Tegang juga ya?Hehehehe…Kesimpulannya adalah :

Sebenarnya, saya hanya bisa mengamati kejadian ini sebagai sebuah perang identitas diri dari dua bangsa yang memiliki asal-muasal yang hampir sama. Bangsa Malaysia sebagian besar merupakan keturunan dari wilayah kerajaan yang ada di sumatera dan sebagian lain adalah kerajaan yang ada di sulawesi termasuk suku bugis. Menurut saya, disaat keberhasilan pembangunan ekonomi yang boleh dikatakan berhasil, Malaysia merasa “rindu” dengan jati dirinya sebagai sebuah Bangsa. Pembangunan ekonomi dan pendidikan yang begitu pesat dan bisa dikatakan berhasil, tidak diberangi dengan pembangunan Identitas kebangsaan yang berakar pada budaya lokal.Malaysia seakan kehilangan jati diri sebagai sebuah bangsa.
Lain halnya dengan Indonesia, seberat apapun krisis yang melanda di bidang ekonomi dan politik, nampaknya bangsa Indonesia akan tetap utuh karena memiliki akar budaya yang kuat, sejarah historis perjuaangan yang sangat panjang, berbagai suku bangsa, bahasa dan agama akan tetap menjadi Bangsa Indonesia.
Saya Harap kedua bangsa menjadi lebih Bijak, yang satu, jangan terlalu banyak mengklaim, dan yang satu lagi jangan mau kekayaanya di klaim..wes ah, ngono wae!

INDONESIA JAYA!! Ayo, Buktikan!!
Sekian dulu ah, lain kali cerita ketegangan2 versi lainnya…masih banyak kok:)





Album Ramadhan LAZ Al Azhar Peduli Ummat

7 08 2009

Sebuah terobosan baru, Lembaga Amil Zakat (LAZ) Al Azhar Peduli Ummat mengeluarkan album zakat bertema “RAIH GEMILANG DENGAN ZAKAT”. Album ini mengemas 5 (lima) buah syair yang berisikan tentang keutamaan berzakat.Tujuan  dikeluarkannya album tersebut merupakan alternatif dakwah melalui seni, khususnya seni musik. Diharapkan, dengan dilauchingnya album tersebut di bulan ramadhan, dapat menjadi alternatif baru ummat Islam disaat menjalankan ibadah puasa, juga dapat menikmati music bertemakan nasihat tentang keutamaan zakat, infak dan sedekah.

Tidak hanya dikemas dalam bentuk keping compact disc (CD), akan tetapi kini dapat didengarkan dalam bentuk ring back tone (RBT) yang dapat diakses melalui semua jaringan seluler di Indonesia. Keping CD dapat didapatkan di kantor LAZ Al Azhar Peduli Ummat, Kompleks Yayasan Pesantren Islam Al Azhar, Jln. Sisingamangaraja, Kec. Kebayoran Baru – Jakarta Selatan, telp. 021-7221504 dan Kantor Cabang di Jln. Radio Dalam Raya, Gandaria Utara No. 9B, Telp. 021-7204733.

Silahkan bagi rekan-rekan yang ingin menyemarakan Ramadhan 1430 H ini dengan nuansa seni yang bernilai dakwah, untuk mengakses kode RBT Album Zakat LAZ Al Azhar. Mudah-mudahan dalam waktu dekat, clips album zakat versi Al Azhar dapat kita saksikan dan dengarkan di radio dan televisi kesayangan Anda.

RBT Al Azhar





ZAKAT KONTEMPORER : ZAKAT PENGHASILAN/PROFESI

6 07 2009

Zakat profesi atau zakat penghasilan sebenarnya telah dikenal sejak lama. Beberapa riwayat menjelaskan hal tersebut, diantaranya adalah riwayat dari Ibnu Mas’ud, Mu’awiyah dan Umar bin Abdul Aziz yang menjelaskan bahwa beliau mengambil zakat dari a’thoyat, jawaiz (hadiah) dab al-madholim (barang ghasab yang dikembalikan). Abu Ubaid meriwayatkan, “Adalah Umar bin Abdul Aziz memberi upah kepada pekerjaannya dan mengambil zakatnya, dan apabila mengembalikan al-madholim (barang ghasab yang dikembalikan) diambil zakatnya, dan beliau juga mengambil zakat dari a’thoyat (gaji rutin) yang diberikan kepada yang menerimanya”.

Dasar pengenaan zakat profesi diantaranya adalah QS Al- Baqarah, ayat 267: ” Hai orang yang beriman, nafkahkanlah sebagian dari (hasil) usaha kamu yang baik ……….” dan QS At Taubah :103.

Fatwa Ulama pada Mu’tamar Internasional I tentang zakat di Kuwait (30 April 1984 M), antara lain juga menyebutkan obyek zakat yang tidak secara spesifik disebutkan dalam hadist yaitu : zakat profesi, perusahaan, dan kegiatan usaha lainnya.

Berbagai ulama berpendapat bahwa pengenaan zakat profesi dapat diqiyaskan atau dianalogkan dengan dua jenis zakat sekaligus yaitu zakat pertanian dan zakat uang/ emas. Dianalogkan dengan zakat pertanian, karena zakat profesi tidak mempunyai haul. Artinya kalau zakat pertanian wajib dikeluarkan saat panen (QS 6:141), maka zakat profesi juga wajib dikeluarkan saat kita menerima hasil usaha (jerih payah) kita.

Dianalogkan dengan zakat uang/emas, karena penghasilan yang kita terima berupa uang tidak dalam bentuk natura. Zakat profesi dianalogkan dengan zakat pertanian untuk nishabnya, yaitu setara dengan 524 kg beras, sehingga jika harga beras Rp 5.000,00/kg berarti nishob zakat profesi sebesar Rp 2.620.000,00 per bulan. Untuk prosentasenya, mengikuti zakat uang/ emas yaitu 2,5% dari hasil yang diterima (bruto).

Beberapa alasan Kewajiban Zakat Profesi, antara lain: Ayat-ayat Qur’an yang bersifat umum yang mewajibkan semua jenis harta dikeluarkan zakatnya. Berbagai pendapat para ulama terdahulu maupun sekarang, meskipun dengan menggunakan istilah yang berbeda. Sebagian dengan menggunakan istilah yang bersifat umum yaitu al-amwaal, sementara sebagian lagi secara khusus memberikan istilah dengan istilah al-mustafad seperti terdapat dalam fiqh zakat dan al-fiqh al-Islamy wa ‘Adillatuhu.

Dari sudut keadilan – yang merupakan ciri utama ajaran Islam – penetapan kewajiban zakat pada setiap harta yang dimiliki akan terasa sangat jelas, dibandingkan dengan hanya menetapkan kewajiban zakat pada komoditas-komoditas tertentu saja yang konvensional. Petani yang saat ini kondisinya secara umum kurang beruntung, tetapi harus berzakat, apabila hasil pertaniannya telah mencapai nishob. Karena itu sangat adil pula, apabila zakat inipun bersifat wajib pada penghasilan yang didapatkan para dokter, para ahli hukum, konsultan dalam berbagai bidang, para dosen, para pegawai dan karyawan yang memiliki gaji tinggi, dan profesi lainnya.

Sejalan dengan perkembangan kehidupan ummat manusia, khususnya dalam bidang ekonomi, kegiatan penghasilan melalui keahlian dan profesi ini akan semakin berkembang dari waktu ke waktu. Bahkan akan menjadi kegiatan ekonomi yang utama, seperti terjadi di negara-negara industri sekarang ini. Penetapan kewajiban zakat kepadanya, menunjukkan betapa hukum Islam sangat aspiratif dan responsif terhadap perkembangan zaman. Afif Abdul Fatah Thabari menyatakan bahwa aturan dalam Islam itu bukan saja sekedar berdasarkan pada keadilan bagi seluruh ummat manusia, akan tetapi sejalan dengan kemaslahatan dan kebutuhan hidup manusia, sepanjang zaman dan keadaan, walaupun zaman itu berbeda dan berkembang dari waktu ke waktu.





Tanggung Jawab Sang Kepala Negara

29 04 2009

Akhir-akhir ini, elite partai politik di negeri antah berantah ini sangat sibuk ingin menancapkan dirinya menuju RI 1, Presiden NKRI. Padahal, apakah mereka sudah faham tugas sang Kepala Negara di Republik ini?

Berikut saya kutip dari http://www.eramuslim.com,sebuah artikel yang saya yakin bisa memberikan pencerahan, baik kepada para elite parpol, terutama kepada rakyat jelata seperti kita.

Imam Hasan Al-Banna menilai bahwa kepala negara punya tugas dan wewenang tertentu. Hak rakyat terhadap kepala negaranya adalah mengevaluasi kerja dan tugas kepala Negara. Bila terbukti melakukan kesalahan dan kegagalan dalam kepemimpinannya, karena rakyatlah yang telah mengangkat dan membai’atnya guna menduduki jabatan tersebut. Sebagai konsekwensi dari pengangkatan dan pembai’atan itu, berarti seorang kepala negara diamanahkan tugas-tugas yang harus ditunaikannya. Bila tugas yang diamanahkan tersebut berhasil dijalankan dengan baik, maka selaku rakyatpun dituntut memberikan dukungan, bantuan dan loyalitas penuh terhadap kepala negara tersebut.

Imam Hasan Al-Banna menyatakan dalam salah satu dari sepuluh rukun bai’at yaitu rukun pertama al-fahm, bahwa pendapat dan pandangan imam atau kepala negara maupun wakilnya dalam perkara yang tidak ada nash yang berbicara tentang perkara tersebut, pandangan yang berpeluang memiliki banyak interpretasi dan pemahaman serta permasalahan yang terkait dengan mashlahah mursalah, maka pendapat dan pandangan tersebut wajib ditaati dan dilaksanakan sepanjang tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah syari’at.

Mengenai pertanggung jawaban kepala negara terhadap Allah dan terhadap rakyat yang telah membai’atnya, serta kedudukan kepala negara sebagai pelayan yang digaji oleh rakyat, Imam Hasan Al-Banna berdalil pada hadits Rasulullah SHALLALLAAHU ALAIHI WA SALLAM yang berbunyi:

كُلّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلُوْنَ عَنْ رَعِيَّتِهِ.
Artinya: Masing-masing kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban kepemipinannya tersebut.

Dan ungkapan Abu Bakar yang berbunyi:

أَيُّهَا النَّاسُ كُنْتُ أَحْتَرِفُ لِعِيَالِيْ فَأَكْتَسِبُ قُوَّتَهُمْ، فَأَنَا اْلآنَ أَحْتَرِفُ لَكُمْ، فَافْرِضُوْا لِيْ مِنْ بَيْتِ مَالِكُمْ .
Artinya: Wahai manusia, sesungguhnya dulu aku bekerja sendiri (berusaha) demi menghidupi kebutuhan keluargaku, sedangkan sekarang aku berkerja pada kalian, maka hendaklah kalian ambilkan sedikit (upah) buatku dari baitul mal.

Ini merupakan semacam kesepakatan dan kontrak kerja antara rakyat dengan pemimpinnya agar menjalankan kewajiban dalam rangka melindungi kepentingan-kepentingan umum, sehingga jika sang pemimpin tersebut mengerja-kan tugasnya secara baik dan profesional, maka dia berhak mendapatkan ganjaran (kompensasi), sementara jika dia melalaikan tugasnya, maka dia pun berhak mendapatkan hukuman .

Menurut hemat penulis, menduduki jabatan kursi kepala negara dilakukan setelah adanya kesepakatan, nota kesepahaman, kontrak maupun aqad antara rakyat dengan pemimpin. Aqad ini tentu berbeda dengan transaksi jual beli maupun bisnis, karena dalam transaksi jual beli maupun bisnis, transaksi antara pembeli dan penjual dinyatakan telah selesai dan sah dengan adanya aqad dan pertukaran barang secara langsung. Tapi aqad dan nota kesepahaman antara pemimpin dengan rakyatnya lebih identik dengan transaksi perwakilan yang terikat oleh beberapa syarat dan ketentuan. Ketentuan tersebut bertujuan supaya kepala negara melaksanakan tugas-tugasnya dengan profesional, baik menyangkut mengatur urusan dalam maupun luar negeri, mewujudkan kepentingan bersama umat Islam serta melindungi aset kekayaan, kehormatan dan nyawa para rakyatnya. Puncak dari tugasnya adalah penerapan hukum syari’at Islam dalam segenap aspek kehidupan. Dan sebagai konsekuensinya, setiap rakyat wajib mentaati, membantu dan menyokong kepemimpinannya.

Untuk itu, rakyat selaku pemberi kewenangan dan kepala negara selaku wakil atau yang ditugaskan menjalankan kewenangan, jika kepala negara mengerjakan tugasnya secara profesional dan seoptimal mungkin, maka jabatannya sebagai kepala negara tentu bisa bertahan lama di atas dukungan, bantuan dan ketaatan rakyatnya. Sementara bila kepala negara tidak menjalankan wewenang yang telah diamanahkan rakyat serta tidak sanggup mewujudkan kepentingan dan kebutuhan rakyat, maka rakyat berhak mencopot dan memberikan wewenang pada orang lain yang berhak dan punya kapabilitas untuk memimpin negara .





Semi Resensi : Three Cups of Tea

28 11 2008

greg-mortenson-three-cups-of-tea

“…(di Pakistan dan Afganistan), kami minum tiga cangkir teh saat membicarakan bisnis, pada cangkir pertama engkau masih orang asing; cangkir kedua, engkau teman; dan pada cangkir ketiga, engkau bergabung dengan keluarga kami. Sebuah keluarga yang siap untuk berbuat apapun-bahkan untuk mati.”

Haji Ali, Kepala Desa Korphe, Karakoram-Pakistan


Buku kedua yang saya beli di Indonesian Book Fair JCC adalah Three Cups Of Tea, ditulis Oleh Greg Mortenson dan David Oliver Relin. Buku setebal 630 halaman dan diterbitkan oleh penerbit Hikmah ini sangat inspiratif.

Three Cups of Tea berisi mengenai kisah pemenuhan janji. Sebuah janji yang dilontarkan kepada Haji Ali untuk membangun sebuah sekolah di Desa Korphe sebagai balas budi kebaikan atas Haji Ali dan keprihatinan Greg Mortenson atas suasana penididikan anak-anak di Desa Korphe. Ya, selama satu dekade berikutnya, Greg Mortenson telah membangun tak kurang dari lima puluh satu sekolah—terutama untuk anak-anak perempuan. Kisahnya adalah sebuah petualangan seru dan persahabatan antara seorang Angreji (Seorang Amerika dalam Bahasa  Suku Balti) dengan kaum Islam Sunni dan Syiah Pakistan serta Afganistan, sekaligus kesaksian akan kekuatan semangat kemanusiaan.

Greg Mortenson, seorang perawat, pada tahun 1993 berhasrat untuk menaklukan puncak gunung Himalaya yang dikenal dengan K2. Bukan hanya gagal, Greg Mortenson juga mengalami kelelahan yang amat kronis dan kehilangan 15 kg bobot tubuhnya. Greg Mortenson yang menuju Askole, malah tiba di Korphe, sebuah desa miskin yang sangat terpencil, begitu terpencilnya sampai tidak bisa ditemukan dipeta wilayah Karakoram-Pakistan. Berkat Mouzafer Ali, seorang porter berasal dari suku Balti, Greg  Mortenson diperkenalkan kepada Haji Ali.

Di Desa korphe, Greg Mortenson di jamu oleh Haji Ali dengan penuh kasih sayang dan diberikan perawatan yang terbaik dan diperlakukan bak tamu istimewa. Di Desa Korphe yang amat sangat miskin inilah jalan hidup Greg Mortenson dan jalan hidup anak-anak di Pakistan Utara, berubah. Ketika memikirkan cara membalas budi baik mereka, jantung Mortenson serasa tercerabut dan napasnya tercekat saat melihat bagaimana anak-anak di sana bersekolah: mereka duduk melingkar, berlutut di tanah yang membeku, dalam udara nan dingin, dengan tertib mengerjakan tugas. Greg Mortenson meletakkan tangannya di pundak Haji Ali dan berkata, “Aku akan membangun sebuah sekolah untuk kalian. Aku berjanji.” Inilah kisah mengenai pemenuhan janji tersebut. Ya, selama satu dekade berikutnya, Greg Mortenson telah membangun tak kurang dari lima puluh satu sekolah—terutama untuk anak-anak perempuan—di daerah tempat lahirnya Taliban. Kisahnya adalah sebuah petualangan seru sekaligus kesaksian akan kekuatan semangat kemanusiaan.





Obrolan di Taxi

23 11 2008

“Kenapa banyak sekali orang serakah dengan melakukan KKN (Korupsi, Kolusi & Nepotisme) ya Mas?”, tanya seorang sopir taxi kepada saya.

“Banyak faktor mungkin Pak, bisa karena permintaan Isteri yang macam-macam atau mungkin adanya kesempatan untuk melakukan korupsi sangat besar di Indonesia”, Jawab saya seadanya sambil sedikti tertawa. Jawaban saya cukup mendasar.

Saya pernah mendengar ceramah dari kiayi kondang,,AA Gym pernah  menngatakan bahwa salah satu faktor kenapa para lelaki yang sudah memiliki isteri melakukan Korupsi adalah karena kadangkala permintaan dari isterinya yang terlalu berlebihan, sehingga menyebabkan sang sumi ‘mencari’ sumber pemasukan yang berasal dari korupsi. Tentu, hal tersbut merupakan salah satu faktor kecil saja, banyak faktor lain yang menyebabkan seseorang melakukan korupsi.

Sesampainya saya dirumah, saya mencoba membaca beberapa novel yang baru saja saya beli di Indonesian Book Fair, di JCC baru-baru ini. Ada novel ‘The Naked Traveler’ yang mengisahakn seorang wanita Indonesia yang telah melakukan perjalanan ke berbagai tempat penjuru dunia. Menarik Memang, selain dikarenakan perjalanannya ala bakcpacker , penulisan dalam novel tersebut terkesan spontan dan apa adanya, tercampur dengan humor dan sindiran-sindiran subjektif dari penulis terhadap pengalaman-pengalaman perjalanannya.

Ngomong-ngomong soal perjalanan, saya pribadi di usia 23 tahun sudah mengalami banyak perjalanan, sisa perjalanan menyusuri Nusantara hanya tersisa di beberapa wilayah Indoensia Timur, khususnya Papua dan Kepulauan Maluku (InsyaAllah aka terealisasi:). Untuk perjalanan ke luar, ya sudah beberapa kali menginjakan kaki di beberapa negara tetangga yang bebas visa itu. Akan tetapi, saya teringat sebuan ungkapan seorang Diplomat yang tentu saja sudah melakukan banyak sekali perjalanan ke luar, bahwa The Longest Journey is the Journey in Me , Perjalanan Yang Paling Panjang (jauh) adalah Perjalanan dalam Diri Saya.

Apa itu perjalanan ke dalam diri?. Sebuah perenungan/kontemplasi yang memberikan pertanyaan yang mendasar bagi manusia, sebagai manusia itu sendiri-Human Being. Sebagai Human Being, kita dituntut untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan : dari mana saya berasal, apa yang sedang saya lakukan, untuk apa saya melakukannya dan kemana kita akan kembali. Pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan sebuah perenungan atau kontemplasi yang amat mendalam. Manusia sesungguhnya adalah mereka yang sudah menemukan jawaban dari pertanyaan diatas. Manusia yang tentu akan lebih bijak dalam bertutur dan bertindak.

Banyak manusia yang disibukan dengan pekerjaannya, pergi dari rapat satu ke rapat yang lainnya, dari presentasi ke presentasi lainnya seolah-olah tidak punya waktu untuk sedikit merenung atau kontemplasi atau sebuah muhasabah dirinya sendiri. Tipe manusia ini beranggapan bahwa untuk disebut sebagai manusia mereka menunjukan dengan kesibukannya dalam bekerja, mereka itu adalah Manusia Pekerja-Human Doing.

Ada juga (bahkan banyak) manusia yang eksistensinya akan lebih diakui dengan menunjukan harta benda yang dimilikinya, rumah mewah, mobil-mobil canggih dan perhiasan-perhiasan yang dikumpulkannya, hanya sekedar ingin ‘diakui’ sebagai manusia, mereka adalah tipe manusia pemilik –Human Having.

Barangkali, itulah jawaban “Kenapa banyak sekali orang serakah dengan melakukan KKN (Korupsi, Kolusi & Nepotisme) ya Mas?”

Lalu, akan menjadi manusia apa kita?