Cinta

17 06 2008

Mencintai apa yang telah terjadi, telah berlalu,

Mencintai apa yang akan terjadi, bisa terjadi,

dan yang terpenting adalah…

Mencintai apa yang kita peroleh, kita miliki, kita alami… saat ini

Saat ini…

Apa maksudnya?

Ya, banyak sekali orang yang mengatakan pada dirinya sendiri, bahwa

”kalau saya sudah punya uang lebih, saya pasti bahagia…”

”kalau karir saya sudah lebih baik, pasti saya lebih tenang daripada sekarang…”

dan masih banyak lagi kata-kata seperti itu

kenyataannya?

Adakah kepuasan diperoleh ketika mereka memperoleh lebih banyak uang?

Adakah kepuasan ketika karir menjadi lebih baik dari sebelumnya?

Akan muncul berbagai penghalang kebahagiaan, ketenangan, dan berbagai macam emosi positif, kapanpun… mengapa?

Karena kita memberi ”Syarat” pada kebahagiaan, ketenangan, dll. ”Syarat”? Ya, kita hanya bahagia, tenang, dll ketika kita sudah mengalami perbaikan dalam karir, keuangan, keluarga, dll, apakah itu bukan merupakan sebuah syarat? Dan coba tanyakan pada diri kita sendiri, ”syarat” yang kita tentukan itu tentu saja sulit sekali untuk tercapai, setiap kali kita mencapai titik yang kita tentukan, selalu timbul masalah lain yang baru (karena begitulah yang namanya kehidupan, selalu penuh dengan masalah dan solusinya, benar?).

Nah, ketika kita mencapai suatu titik yang kita inginkan dalam kehidupan (keuangan, karir, rumah tangga, hubungan, dll), dan baru kita melihat dan merasakan masalah di titik tersebut, maka akan muncul ”syarat” baru untuk pencapaian ketenganan, kebahagiaan,dll tersebut.

Lalu kapan kita bahagia?

Sebenarnya ada cara supaya kita bisa bahagia selalu, tenang selalu, yaitu dengan mencintai apa yang sedang dan telah kita lakukan.

Mencintai? Maksudnya?

Begini, ketika kita bisa mencintai apapun kondisi kita saat ini, dan apapun yang telah terjadi pada diri kita di masa lalu, itu adalah suatu bentuk keiklasan. Masuk akal bukan, ketika kita iklas untuk apapun yang telah, sedang, dan akan terjadi, maka kita merupakan manusia yang punya kecenderungan untuk bebas dari rasa stress dan depresi yang merusak?

Nah, banyak yang mengatakan ”iklaskan” berbagai hal di masa lalu maupun yang sedang menimpa diri kita saat ini.

Pertanyaan penting, mudahkah mengiklaskan sesuatu hal yang mengakibatkan sebuah kerugian, kegagalan, atau beban emosi pada diri kita?

Mudahkah mengiklaskan sesuatu ketika kita harus kehilangan sesuatu atau seseorang yang kita cintai?

Mudahkah mengiklaskan sesuatu ketika kita mengalami sebuah bekas yang tidak menyenangkan, melekat pada ingatan dan bahkan fisik kita seumur hidup?

Jawaban yang biasanya diberikan, TIDAK…

Salah satu cara untuk mengubah jawaban tersebut menjadi ”tidak mudah, tapi bisa, dan ada yang bisa kita pelajari dari situ” adalah:

Mengisi hari-hari dengan cinta,

Mencari apa yang bisa kita cintai dari pekerjaan yang kita lakukan, dengan melakukan hal yang sama, dengan cara yang ”agak” berbeda…

Mencari bentuk mencintai dari sisi yang lain, untuk pasangan kita yang sudah lama bersama kita, sehingga seringkali rutinitas kita anggap membuat rasa cinta kita perlahan-lahan memupus. Yang terjadi adalah, ketika kita terbiasa akan suatu hal, kita tidak lagi menganggap hal itu istimewa (walaupun sebetulnya tetap istimewa, biasanya kita rasakan begitu kita kehilangan). Coba lihat pasangan dengan cara yang berbeda, berkomunikasi dengan cara yang juga berbeda…

Mencintai apapun masalah, musibah, kesulitan, dan tantangan yang terjadi pada diri kita, baik yang sudah maupun sedang terjadi… karena ini semua adalah sebuah cara untuk membuat kita lebih dewasa, dan mampu untuk menemukan kebahagiaan2 baru dalam hidup kita di depan… Apakah kita terus bersedih atau bersusah hati, kalau seandainya, kita sudah mengetahui bahwa apapun yang terjadi pada diri kita, ada maksudnya? Dimana maksudnya itu adalah untuk kita mampu mencapai TUJUAN yang pernah kita impikan atau minta dalam doa kita?

Apapun yang sudah lewat di masa lalu kita tidak akan mampu menjadi sarana percepatan kita mencapai TUJUAN yang kita inginkan, kalau kita hanya menyesali dan menyimpan perasaan bersalah, bahkan amarah. Kalau kita ingin TUJUAN kita lebih cepat tercapai, cari tahu mulai dari sekarang, ”kenapa ya, kita mengalami kejadian itu?”, atau ”apa ya yang bisa saya dapat dari peristiwa itu?”

Mulai belajar mencintai apapun yang sedang kita lakukan, dan melakukan apa yang kita cintai, hari demi hari… Bagaimana? Temukan aspek2 baru yang bisa kita lihat, dari pekerjaan, hubungan dengan istri/suami, dengan anak, dengan teman, karir, dll. Ingat, pekerjaan kita akan tetap seperti itu, keluarga kita akan tetap seperti itu, dll apabila kita tetap menjalani semua itu dengan cara yang sama, dengan perasaan dan pola pikir yang sama.

“Love What You Do, Do What You Love”

Be Spontaneous, lakukan sesuatu dengan cara yang berbeda hari ini. Renungkan, dan temukan rasa cinta baru dalam hidup kita. (contoh: daripada hari ini naik lift ke kantor, coba tangga darurat, capek? Iya, tapi coba temukan inspirasi apa yang kita dapat. Tentang kesehatan, lingkungan, dll. Pasti dapat sesuatu? Anda yang menentukan).

Jadi, mencintai itu mudah? Mudah, yang sulit adalah menemukan apa yang bisa kita cintai, apa yang bisa kita pandang dengan cara yang berbeda hari ini.

Selamat menemukan cinta di hari ini…


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: