Oleh-oleh dari Malaysia (1)

31 10 2008

15 hari roadshow...

15 hari roadshow...

Alhamdulillah, selama sepekan kemarin saya bisa mengikuti sebuah seminar internasional di Putrajaya-Malaysia. Seminar yang berkaitan dengan Manajemen Rumah Sakit Islam. Kebetulan Background pendidikan saya adalah di Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. So, sempat mengenyam seperti apa itu manajemen RS.

Dulu, waktu kuliah, dosen pertama saya mengatakan bahwa Manajemen RS pada intinya adalah Manajemen Dokter, artinya : “Mengurus para dokter”. Sempat tertawa juga, karena kebanyakan dokter di Indonesia mungkin susah diatur dan cendrung punya ego yang kuat dalam kepribadiannya. Apakah pengaruh bawaan/sifat, atau pengaruh lingkungan pendidikan dokter di Indonesia (yang cendrung feodal dan senioritas) atau mungkin factor lain yang belum ditemukan. Entahlah, mungkin perlu penelitian lebih lanjut.

Tapi, lupakan itu semua. Saya akan mencoba merangkum apa yang saya dapatkan di seminar tersebut. Seminar tersebut berbicara tentang “Dilema In Medical Practice : Islamic and Conventional”. Sebuah tema yang sederhana sebenarnya. Sama seperti dunia perbank-an saja, shariah atau konvensional. Akan tetapi jika dipandang dalam sudut adminstrasi, ternyata saya menemukan suatu hal yang sangat luar biasa berbeda, merasa mendapatkan pencerahan.

Seminar ini dibuka oleh Menteri Agama Malaysia, YB Dato’ Seri Ahmad Zahid Hamidi yang berbicara mengenai Revitalisasi Paradigma Pelayanan Kesehatan terhadap Ummat dan juga mengumpulkan beberapa dasar-dasar Manajemen Pelayanan Kesehatan Secara Islami. Kemudian setelah itu, sebuah ceramah singkat dari DR. Hidayat Nurwahid (ketua MPR RI) yang memberikan ceramah mengenai peran professional Muslim dalam berbagai bidang.

Hospital Administration : Common pitfalls; Addressing Tauhidic Input

Suatu judul yang menarik. Bisnis RS adalah bisnis jual beli barang dan jasa. Dalam Islam, diatur dalam fiqih muamalah. Rumah Sakit (RS) erat kaitannya dengan sehat-tidak sehat (sakit) dan lebih sangat erat kaitannya dengan dunia kedokteran. Yang berbicara dengan tema ini adalah seorang Ahli dalam Bussines Management, beliau adalah DR. Kalamhamidi. Seorang yang sangat sedrhana dan akrab, oleh akrena itu kami dapat langsung akrab, khususnya dengan delegasi dari Indonesia. Beliau ternyata juga adalah Dosen di KARS FKM UI dan sangat sering ke Indonesia baik untuk mengajar maupun sebagai konsultan dalam pembangunan RS di Indonesia.

Daam materinya, beliau memulai dengan sebuah cerita. Begini ceritanya : ada 3 orang anak yang sedang menuntut ilmu di pasantren, umurnya sekitar 10-12 tahun, sebut saja fulan 1, fulan 2 dan fulan 3. Suatu saat, mereka hendak melaksanakan sholat berjamaah di surau. Ketiga anak tersebut bersepakat bahwa si fulan 1 yang menjadi imam. Sholat pun dimulai. Ketika si fulan 1 menjadi imam, ternyata si fulan 1 tidak menemukan kekhusuan dalam melakukan takbiratul ihram. Sampai-sampai si fulan 1 berulang-ulang melakukan takbiratul ihram. Melihat kejadian itu, si fulan 2 berkata; “hai fulan 2, kenapa kamu terus-terusan melakukan takbiratul ihram?”

Fulan 1 : “maaf, saya tidak bisa khusyu’”

Fulan 2 : “Kalau begitu, biar aku saja yang menjadi imam”

Fulan 1 : “Baik, silahkan”

Si fulan 2 langsung mengambil alih posisi sebagai imam. Sholat berjamaah pun dimulai. Si fulan 2 langsung takbiratul ihram, membaca doa iftitah, fatihah dan membacakan beberapa ayat dalam Alquran. Kemudian tidak disangka-sangka, si fulan 2 berkata pada kedua temannya yang menjadi makmum

Fulan 2 : “Tuh kan, kalau saya yang menjadi imam, cukup 1 kali saja takbiratul ihramnya, beres……”

Si fulan 1 dan fulan 3 Bingung : “&**)09&^%87*^**((9*”. Dan sholat berjama’ah pun dengan sendirinya batal.

Lalu, si fulan 3 sekarang mengambil posisi sebagai imam. Si fulan 3 sangat lancar dan fasih dalam melakukan tugasnya sebagai imam. Setelah tabiratul ihram, rukuk, sujud dan sampai akhirnya pada raka’at terakhir lalu salam. Si fulan 1 dan si fulan 2 yang menjadi makmum pun lega, karena mereka sudah melaksanakan sholat. Lalu si fulan 3 berkata : “Bagaimana kawan? Saya sangat lancar bukan sebagai imam”?

Fulan 1&2 : “Iya, Alhamdulillah…”

Lalu si fulan 3 berkata : “Iya, tapi tadi sebelum sholat saya lupa berwudlu dulu”

Fulan 1&2: “(*(&%^*)(_()*(()**&(*)()()()()()*&^&%&”

Dari cerita ini, tahukah kawan? Bahwa perlu kesempurnaan ketika kita menjalankan Islam, baik dalam beribadah, maupun dalam hal mu’amalah..:)

(tobe continued to Oleh-Oleh dari Malaysia bagian 2)


Actions

Information

One response

7 11 2008
zizah

wah…jd ngebayangin muka fulan 1,2,3….jangan2 diantara fulan itu ada antumnya..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: