Syukur itu…

12 11 2008

autumn-leaves Wins Vista

autumn-leaves Wins Vista

Ini merupakan kisah nyata yang dituturkan oleh seorang yang bijak kepada saya. Sebut saja Pak Hotman, beliau adalah salah Salah Satu anggota dari Dewan Wali Amanah, Dompet Dhuafa Republika.

Suatu ketika, saat menjelang malam, rumah putra dari Pak Hotman didatangi oleh seorang Mua’alaf yang berlokasi di Bandung. Panggil saja Fulan. Ada sesuatu yang istimewa dari kunjungan si Fulan tersebut ke rumah Putra Pak Hotman. Melihat bentuk fisik dari si Fulan yang kecil, mungil bisa dikatakan kerdil. Tinggi badannya tak lebih dari setinggi lutut orang dewasa. Aktifitas kesehariannya dibantu oleh sebuah kursi roda.

Fulan menuturkan perjalanannya dalam menemukan Agama atau keyakinan apa yang harus dia anut. Semula, Fulan dan keluarga merupakan penganut agama Advent. Dibesarkan dari keluarga Tiong Hoa, semula Fulan merupakan seorang bayi yang ditemukan oleh keluarga Tiong Hoa tersebut di deoan pintu rumahnya. Kebetulan, Kelaurga yang merawatya sekarang memang tidak memiliki anak laki-laki.

Kondisi di keluarga yang merawat Fulan memang sangat demokratis. Keseharian Fulan dihabiskan untuk membaca bermacam-macam buku dan artikel tentang berbagai Agama. Buku-buku Advent, Katolik, Protestan, Hindu, Islam, Budha, Konghucu berualang-ulang ia baca. Sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk mengikrarkan diri melalui Syahadat memeluk Islam. Sebenarnya dari pihak Keluarga Fulan yang menganut Agama Advent tidak memberikan batasan. Namun, secara manusiawi Fulan tahu bahwa keputusannya mungkin melukai hati keluarga yang telah merawatnya dengan penuh kasih dan sayang.

Melihat dari tutur katanya yang sopan, bersahaja dan penuh keyakinan. Pak Hotman melihat sosok Fulan, walaupun penuh dengan keterbatasan fisik, adalah sosok yang sangat bersyukur. Memang, dalam pembicaraannya Fulan jarang sekali mengucap Alhamdulillah atau kalimat-kalimat yang sejajar dengan ungkapan sykur tersebut. Lalu, Pak Hotman mengajukan sebuah pertanyaan, yang pertanyaan tersebut mungkin bisa dikatakan sangat prvacy, sehingga Fulan boleh saja menolak pertanyaan tersebut. Akan tetapi dengan senyuman, Fulan mempersilahkan Pak Hotman melanjutkan pertanyaannya.

“Fulan, saya tahu Anda dilahirkan dalam bentuk yang kerdil, cacat dan penuh keterbatasan. Bahkan, Anda juga mungkin tidak dapat merasakan nikmat terhadap lawan jenis. Lalu, apa yang menyebabkan Anda begitu terlihat sangat bersyukur kepada Allah SWT yang tercermin dari keperibadian Anda?”

Fulan pun menjawab : “ Kita semua tahu, dari jutaan sel sperma tersebut, hanya satu yang sekarang ada, yaitu saya! Satu sperma yang sekarang adalah saya itu merupakan pilihan dari Allah SWT, melalui sebuah persaingan sampai akhirnya bertemu dengan sel telur dan menempel pada dinding rahim ibu kita, melaui sebuh proses mengandung dan melahirkan, lalu jadilah Saya seperti ini, Bapak, Putra dan cucu-cucu Bapak. Lalu yang harus kita tanyakan, kemana dan dimana nasib sel sperma lainnya? They are nothing!Mereka tidak ada.! Mereka tidak menjadi apa-apa!. Saya, yang diberikan ruh dan kehidupan, setidaknya punya harapan untuk bertemu dengan Tuhan yang telah menciptakan dan merawat saya sampai saat ini. Itulah yang menyebabkan saya bangga, karena saya punya harapan untuk bertemu dengan sang Khaliq.

Lalu, beberapa cucu dari Pak Hotman dengan polos bertanya kepada Fulan. “Om, dimana Om bisa sholat?”. Sebenarnya, Pak Hotman ingin menutup mulut cucunya yang polos itu. Namun, yang bertanya bukan satu orang, ada tiga orang. Dengan senyum pula, Fulan menjawab, “Saya biasa sholat di WC kamar saya”. Dengan penuh keheranan, Pak Hotman berbalik bertanya, “Kenapa Sholat di WC?”. Fulan pun melanjutkan. “ Salah satu tempat yang tidak pernah dimasuki oleh anggota keluarga Saya adalah ruangan WC saya yang selalu bersih dan terjaga dari najis. Saya takut, ketika sedang Sholat, Keluarga yang telah merawat saya terluka perasaannya karena perbedaan Agama”.

Bagaimana sahabat? Masih pantaskah kita untuk tidak bersyukur dan begitu penting untuk memelihara dan menghargai perasaan orang lain?


Actions

Information

3 responses

19 11 2008
yuni

bagus

22 11 2008
eva muz

Subbhanallah… qt yang alhamdulillah diberikan fisik dan tubuh yang sempurna belum tentu bisa berpikir seperti si Fulan… itulah kuasa Allah… smoga qt makin cinta kepada-Nya yaa… Amiiiinnn

(^o^)
(“) (“)

23 11 2008
linda

makasih buat wake up call-nya………….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: